Seventeen and Succesful

Masalah klasik yang tentunya pernah dialami setiap remaja: percintaan & patah hati. Cinta yang cenderung membutakan, mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang benar-benar penting, berguna, dan positif. Tetapi dalam kisahku ini sedikit berbeda. Justru cinta dan patah hati-lah yang membuatku lebih peka, peduli, dan menginginkan perubahan.

“Nak… Mama mau kasih kamu uang untuk hadiah ultah kamu. Terserah kamu deh mau dipake buat apa. Mau ajak temen-temen karoke, atau makan, atau mau dirayain di rumah, terserah kamu. This is gonna be your sweet seventeen, make it unforgetable.” Mama menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah padaku.

Aih. Buat apa… batinku. Aku samasekali tak berniat merayakan hari ulangtahunku yang ke tujuh belas. Kegalauan ekstrim paska-putus-cinta selama empat bulan terakhir masih merasukiku. Rasanya percuma jika aku mengajak seisi kelas berpesta karaoke-ria tetapi ujung-ujungnya airmataku malah membanjiri seisi ruangan, merusak speaker dan microphone, hingga Mama harus membayar biaya ganti-rugi. Makan-makan, well, percuma juga. Selera makanku sudah beristirahat di alam baka. Tak heran jika semua celanaku kini pinggangnya kebesaran. Dirayakan di rumah? Sama saja.

Aku tak ingin uang itu jadi mubazir. Tapi aku juga tak ingin membuat Mama kecewa dengan menolaknya. Lagipula… Sahabat-sahabatku sangat antusias menanti hari ulangtahunku. Paling tidak aku harus memanfaatkan uang di tanganku untuk melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan mereka.

Maka, topik itu berlalu bagai angin. Selama beberapa hari setelah itu Mama tak pernah menyinggung soal itu. Hingga pemandangan horor pun tiba: kalenderku menunjukkan angka 22. Tiga hari lagi ulangtahunku. Dan Mama menanyakannya lagi.

“Nak… Gimana jadinya..?”

Aku diam. Sejenak aku tak tahu harus berkata apa. Semenjak kekasihku pergi, kupadatkan hari-hariku dengan berbagai aktivitas sosial, mulai dari melatih adik-adik kelas satu dan dua berdebat menggunakan Bahasa Inggris, melatih mereka berpidato, hingga aku bergabung dengan IFL Chapter Medan, sebuah LSM yang khusus ditujukan untuk mengadakan kegiatan sukarela dalam rangka membangun masyarakat dan semangat kepemimpinan pemuda. Sedikitpun aku tak teringat untuk bersenang-senang. Yang kusadari adalah, aku harus mengisi jadwal sepadat mungkin hingga tak memiliki waktu untuk bergundah-hati, dan berbuat baik terus menerus hingga tak punya waktu untuk merasa bersalah. Everything else, gone! Hanya itu.

Jadi… bagaimana aku harus menjawab?

Pikiranku melayang. Aku baru diterima di IFL beberapa waktu lalu. Aku bergabung karena aku ingin membawa perubahan. Perubahan positif bagi pemuda. Lantas, apa yang kulakukan sekarang berdiam diri terbodoh di sini?!

Dan tiba-tiba ide itu muncul. Aku mendadak sumringah.

“Ma…”

“Ya?”

“Sewa ruangan seminar mahal nggak?”

“Hah??”

“Gimana kalo uangnya dipake buat bikin seminar?”

“Errr… Bisa sih… tapi… serius kamu, Nak??” sepasang mata bulat Mama menatapku penuh tanya.

“Iya. Seminar motivasi. Zivan kan punya banyak pengalaman yang bisa dibagi…” jawabku.

Sekali lagi Mama masih memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tak percaya.

“Gapapa kan?” tanyaku, menyeringai lebar.

“Aneh sih… Tapi, gapapa.. Unik..”

“Permintaan Zivan tiap ultah emang aneh-aneh kan, Ma. Taun lalu aja Zivan minta makan indomi di warung ga’jelas sama Mama. Hahahahahhh..”

Mama geleng-geleng kepala.

“Yasudahlah.. Besok kita cari ruang seminarnya, ya… Kamu siapkan bahan-bahannya. Pembicaranya siapa aja?”

“Zivan, Mam Zulfah, dan…ummm… Mama mau ya??? Biar Hilyah aja yang jadi moderator..” bujukku. (Btw Mam Zulfah adalah guru Bahasa Inggrisku yang memiliki banyak prestasi, dan Hilyah adalah adik kelas yang sudah kuanggap adikku sendiri)

“Hah? Ngomong apa Mama nanti?”

“Ya Mama kan jago motivasi, tentang gimana dulu Mama awalnya pengen jadi jurnalis karena pengen keliling dunia gratis, sampe sekarang cita-cita itu udah tercapai… Itu sesuatu banget loh, Ma…”

“Whew… Hahahahahhh. Oke deh…” Mama tersenyum.

Hari yang dinantikan pun tiba. Adik-adik kelasku ramai berdatangan, turun dari angkutan kota yang isinya penuh sesak oleh warna seragam yang sama. Semua dengan wajah ceria datang menyalamiku.Di antara mereka berdiri guruku tercinta. Matanya berbinar-binar.

“Kamu cantik hari ini, Zi…” katanya, memelukku.

Untuk pertama kalinya setelah empat bulan dalam kegelisahan, aku benar-benar merasa cantik. Aku sudah berlepas diri dari kebodohanku. Kebodohan yang membuatku buta akan segala nikmat Tuhan. Selama ini aku menzalimi diri sendiri dengan menyalahkan diri atas segala yang terjadi. Sekarang, aku telah terbangun. Ini bukan salahku. Memang kekasihku meninggalkanku. Tetapi aku masih hidup. Aku masih bahagia. Apakah aku benar-benar merindukan dia?  Mungkin selama empat bulan ini aku hanya merindukan ketergantunganku dengannya. Aku hanya merindukan cinta itu sendiri. Dan aku telah menemukan cinta itu kembali. Bersama sosok-sosok yang hadir di sini pada hari ini.

Seminar dimulai. Mama membagi pengalamannya. Mulai dari pengalamannya mencari penghasilan tambahan semasa kuliah, hingga bagaimana cara membuat Curriculum Vitae (CV) yang baik. Lalu Mam Zulfah menceritakan bagaimana awal mula ia menjadi guru, bagaimana ia awalnya membenci profesinya, hingga ia dapat meraih gelar National Best Teacher dan mengikuti program pertukaran guru ke Amerika Serikat. Lalu, ternyata Hilyah memberiku sebuah kejutan! Tomo, Presiden IFL Chapter Medan sendiri datang untuk menjadi guest speaker. Ia pun menceritakan pengalamannya saat awal mula memasuki organisasi sosial, hingga akhirnya mendapatkan misi di Thailand. Peserta seminar semakin antusias. Betapa lengkapnya acaraku!

Giliranku tiba. Dengan senang hati aku membagi pengalamanku pada adik-adik yang mendengarkan dengan seksama. Semuanya. Bagaimana aku tumbuh dari sosok yang pemalu, pemimpi yang hidup di awang-awang, hingga aku memberanikan diri mengikuti kompetisi debat, berlatih keras hingga larut malam, kalah terus-menerus dalam tahun pertama, selalu pulang bersimbah air mata, hingga pada tahun kedua aku mulai berhasil, mengalami masa-masa kejayaanku, mendengar namaku diumumkan sebagai perwakilan sekolah yang berhasil meraih juara dalam berbagai perlombaan, bagaimana aku sempat terjerumus dalam kesombongan hingga aku tersadar ketika suatu kali dikalahkan oleh siswi SMP, hingga aku bisa menjadi seperti yang sekarang ini. Seiring dengan kata-kata yang jatuh dari bibirku untuk mereka, aku mulai tersadar…

Tuhan, terimakasih atas kehidupan, dan nafas yang masih Kau berikan padaku. Hari ini usiaku tujuhbelas tahun. Ya, aku tujuhbelas tahun. Aku telah memenangkan 29 kompetisi di bidang public speaking yang tadinya paling aku takuti. Aku ditinggalkan kekasih yang telah menemaniku selama dua tahun dan aku masih bisa berdiri di sini, menatap dunia dengan bahagia. Aku dimusuhi oleh banyak orang yang menuduhku mendapat prestasi akademis yang baik di sekolah hanya karena ‘menjilat’ para guru – dan masabodoh semua tuduhan itu! Aku dicintai. Dicintai oleh orang-orang yang menyaksikan sendiri perjuangan hidupku. Orang-orang yang selalu ada ketika aku terjatuh. Orang-orang yang akan selalu mencintaiku.

Dan aku sukses hari ini. Sukses membuktikan bahwa aku bukan lagi si bodoh yang sama yang menangis di atas baju peninggalan sang mantan, melainkan sosok pemudi tangguh yang sadar akan pentingnya perubahan. Ehhh, baju peninggalan mantan??

Oooops…

#Abaikan!

By the way, mejaku dipenuhi mawar-mawar putih, dan di antaranya terdapat setangkai mawar merah.

Huahahaha.. 😄

God, I’m seventeen and succesful!

 

 

By : Zivana Sabili

“Seventeen and Succesful – Motivation Seminar”

Medan, October 25th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: