Kemarahan

Marah bukanlah respon yang cerdas. Orang bijak selalu bahagia, dan orang yang bahagia tak akan marah. Marah terutamanya, adalah hal yang tak masuk akal.

Suatu hari, ada seorang biksu bersama supirnya sedang berkendara di sebuah kota. Dan mobil itu berhenti di sebuah lampu merah di samping mobil lainnya. Biksu itu memperhatikan pengemudi mobil itu memaki-maki lampu merah ” Lampu brengsek! Kau tahu aku ada janji penting! Kau tahu aku sudah terlambat dan kau biarkan mobil di depanku lewat. Ini juga bukan yang pertama kali!

Dia menyalahkan lampu merah, seolaholah si lampu merah punya banyak pilihan. Dia pikir si lampu merah memang sengaja menyakitinya, “Aha! Ini dia datang. Aku tahu dia terlambat. Aku akan membiarkan mobil lain lewat dahulu, lalu… merah! Berhenti! Kena dia!” Si lampu merah, itu saja. Apa sih yang Anda harapkan dari sebuah lampu merah?

Kemudian orang itu terlambat pulang dan istrinya memakinya, “Kamu suami brengsek! Kamu tahu kita ada janji penting. Kamu tahu tidak boleh terlambat dan kamu malah mendahulukan urusanmu ketimbang aku. Ini juga bukan yang pertama kali!”

Si istri menyalahkan suaminya, seolah-olah si suami punya banyak pilihan. Dia pikir suaminya memang sengaja menyakitinya, “Aha! Aku ada janji penting dengan istriku. Aku akan terlambat. Aku akan bertemu dahulu dengan orang lain. Terlambat! Kena Dia!”

By : Ryan Asnoel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: